Atom dan Molekul Dalam Kimia Organik
A. Struktur Elektron dan Atom
Dalam Kimia Organik ada 4 unsur yang harus dimengerti atau dipahami diantaranaya adalah C (carbon), H (Hidrogen), O (Oksigen) dan N (Nitrogen). Keempat unsur ini ada di kedua periode pertama dari susunan dan elektronnya terdapat dalam dua kulit elektron yang paling dekat dengan inti.
Setiap
kulit elektron berhubungan dengan sejumlah energi tertentu. Elektron yang
paling dekat dengan inti lebih tertarik oleh proton dalam inti daripada
elektron yang lebih jauh kedudukannya. Karena itu, semakin dekat elektron
terdapat ke inti, semakin rendah energinya, dan elektron ini sukar berpindah
dalam reaksi kimia. Kulit elektron yang terdekat ke inti adalah kulit yang
terendah energinya, dan elektron dalam kulit ini dikatakan berada pada
tingkatan energi pertama. Elektron dalam kulit kedua, yaitupada tingkat energi
kedua mempunyai energi yang lebih tinggi daripada elektron dalam tingkat
pertama, dan elektron dalam tingkat ketiga atau pada tingkat energi ketiga,
mempunyai energi yang lebih tinggi lagi.
Orbital
atom merupakan bagian dari ruang di mana kebolehjadian ditemukannya sebuah
elektron dengan kadar energi yang khas (90% - 95%). Rapat elektron adalah
istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan kebolehjadian ditemukannya
sebuah elektron pada titik tertentu; rapat elektron yang lebih tinggi, berarti
kebolehjadiannya lebih tinggi, sedangkan rapat elektron yang lebih rendah
berarti kebolehjadiannya juga rendah.
Kulit
elektron pertama hanya mengandung orbital bulat 1s. Kebolehjadian untuk
menemukan elektron 1s adalah tertinggi dalam bulatan ini. Kulit kedua, yang
agak berjauhan dari inti daripadakulit pertama, mengandung satu orbital 2s dan
tiga orbital 2p. Orbital 2s seperti orbital 1s, adalah bulat.
Berdasarkan Model Atom Modern
§ berlaku
untuk semua golongan
§ pengisian
elektron pada orbital (tiap kulit terdiri dari satu/beberapa subkulit, tiap
subkulit terdiri dari satu/beberapa orbital)
a. Jari-jari atom
Jari-jari atom adalah jarak dari inti atom sampai kulit terluar.
Bagi unsur-unsur yang segolongan, jari-jari atom makin ke bawah makin besar
sebab jumlah kulit yang dimiliki atom makin banyak, sehingga kulit terluar
makin jauh dari inti atom.
Unsur-unsur yang seperiode memiliki jumlah kulit yang sama. Akan
tetapi, tidaklah berarti mereka memiliki jari-jari atom yang sama pula. Semakin
ke kanan letak unsur, proton dan elektron yang dimiliki makin banyak, sehingga
tarik-menarik inti dengan elektron makin kuat. Akibatnya, elektron-elektron
terluar tertarik lebih dekat ke arah inti. Jadi, bagi unsur-unsur yang
seperiode, jari-jari atom makin ke kanan makin kecil.
Dalam satu golongan, konfigurasi unsur-unsur satu golongan mempunyai
jumlah elektron valensi sama dan jumlah kulit bertambah. Akibatnya, jarak
elektron valensi dengan inti semakin jauh, sehingga jari-jari atom dalam
satu golongan makin ke bawah makin besar.
Jadi
dapat disimpulkan:
- Dalam satu golongan, jari-jari atom bertambah besar
dari atas ke bawah.
- Dalam satu periode, jari-jari atom makin kecil dari
kiri ke kanan.
b.
Energi Ionisasi
Energi
ionisasi adalah energi minimum yang diperlukan atom untuk melepaskan satu
elektron yang terikat paling lemah dari suatu atom atau ion dalam wujud gas.
Harga energi ionisasi dipengaruhi oleh besarnya nomor atom dan ukuran jari-jari
atom. Makin besar jari-jari atom, maka gaya tarik inti terhadap elektron
terluar makin lemah. Hal itu berarti elektron terluar akan lebih mudah lepas,
sehingga energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron terluar makin kecil.
Energi ionisasi kecil berarti mudah melepaskan elektron.
Energi ionisasi besar berarti sukar melepaskan elektron.
Energi
ionisasi pertama digunakan oleh suatu atom untuk melepaskan elektron kulit
terluar, sedangkan energi ionisasi kedua digunakan oleh suatu ion (ion +) untuk
melepaskan elektronnya yang terikat paling lemah.
Jadi
dapat disimpulkan:
- Dalam satu golongan, jari-jari atom bertambah besar
dari atas ke bawah.
- Dalam satu periode, jari-jari atom makin kecil dari
kiri ke kanan.
b.
Energi Ionisasi
Energi
ionisasi adalah energi minimum yang diperlukan atom untuk melepaskan satu
elektron yang terikat paling lemah dari suatu atom atau ion dalam wujud gas.
Harga energi ionisasi dipengaruhi oleh besarnya nomor atom dan ukuran jari-jari
atom. Makin besar jari-jari atom, maka gaya tarik inti terhadap elektron
terluar makin lemah. Hal itu berarti elektron terluar akan lebih mudah lepas,
sehingga energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron terluar makin kecil.
Energi ionisasi kecil berarti mudah melepaskan elektron.
Energi ionisasi besar berarti sukar melepaskan elektron.
Energi
ionisasi pertama digunakan oleh suatu atom untuk melepaskan elektron kulit
terluar, sedangkan energi ionisasi kedua digunakan oleh suatu ion (ion +) untuk
melepaskan elektronnya yang terikat paling lemah.
Unsur-unsur
yang segolongan, energi ionisasinya makin ke bawah semakin kecil karena elektron terluar makin jauh
dari inti (gaya tarik inti makin lemah), sehingga elektron terluar makin mudah
dilepaskan. Sedangkan unsur-unsur yang seperiode, gaya tarik inti
makin ke kanan makin kuat, sehingga energi ionisasi pada umumnya makin ke kanan
makin besar.
c.
Keelektronegatifan
Keelektronegatifan
adalah kemampuan atau kecenderungan suatu atom untuk menangkap atau menarik
elektron dari atom lain. Misalnya, fluorin memiliki kecenderungan menarik
elektron lebih kuat daripada hidrogen. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
keelektronegatifan fluorin lebih besar daripada hidrogen. Konsep
keelektronegatifan ini pertama kali diajukan oleh Linus Pauling (1901 – 1994)
pada tahun 1932.
Unsur-unsur
yang segolongan, keelektronegatifan makin ke bawah makin kecil sebab gaya tarik
inti makin lemah. Sedangkan unsur-unsur yang seperiode, keelektronegatifan
makin ke kanan makin besar. Akan tetapi perlu diingat bahwa golongan VIIIA
tidak mempunyai keelektronegatifan. Hal ini karena sudah memiliki 8 elektron di
kulit terluar. Jadi keelektronegatifan terbesar berada pada golongan VIIA.
d.
Afinitas Elektron
Afinitas
elektron adalah
energi yang menyertai proses penambahan 1 elektron pada satu atom netral dalam
wujud gas, sehingga terbentuk ion bermuatan –1. Afinitas elektron juga
dinyatakan dalam kJ mol–1. Unsur yang memiliki afinitas elektron
bertanda negatif, berarti mempunyai kecenderungan lebih besar dalam menyerap
elektron daripada unsur yang afinitas elektronnya bertanda positif. Makin
negatif nilai afinitas elektron, maka makin besar kecenderungan unsur tersebut
dalam menyerap elektron (kecenderungan membentuk ion negatif). Dari sifat ini
dapat disimpulkan bahwa:
- Dalam satu golongan, afinitas elektron cenderung
berkurang dari atas ke bawah.
- Dalam satu periode, afinitas elektron cenderung
bertambah dari kiri ke kanan.
- Kecuali unsur alkali tanah dan gas mulia, semua unsur
golongan utama mempunyai afinitas elektron bertanda negatif. Afinitas
elektron terbesar dimiliki oleh golongan halogen.
e.
Sifat Logam
Secara
kimia, sifat logam dikaitkan dengan keelektronegatifan, yaitu kecenderungan
melepas elektron membentuk ion positif. Jadi, sifat logam tergantung pada
energi ionisasi. Ditinjau dari konfigurasi elektron, unsur-unsur logam
cenderung melepaskan elektron (memiliki energi ionisasi yang kecil), sedangkan
unsur-unsur bukan logam cenderung menangkap elektron (memiliki
keelektronegatifan yang besar).
Sesuai
dengan kecenderungan energi ionisasi dan keelektronegatifan, maka sifat
logam-nonlogam dalam periodik unsur adalah:
- Dari kiri ke kanan dalam satu periode, sifat logam
berkurang, sedangkan sifat nonlogam bertambah.
- Dari atas ke bawah dalam satu golongan, sifat logam
bertambah, sedangkan sifat nonlogam berkurang.
Jadi,
unsur-unsur logam terletak pada bagian kiri-bawah sistem periodik unsur,
sedangkan unsur-unsur nonlogam terletak pada bagian kanan-atas. Batas logam dan
nonlogam pada sistem periodik sering digambarkan dengan tangga diagonal
bergaris tebal, sehingga unsur-unsur di sekitar daerah perbatasan antara logam
dan nonlogam itu mempunyai sifat logam sekaligus sifat nonlogam. Unsur-unsur
itu disebut unsur metaloid. Contohnya adalah boron dan silikon.
f.
Titik Leleh dan Titik Didih
Dalam
satu periode, titik cair dan titik didih naik dari kiri ke kanan sampai
golongan IVA, kemudian turun drastis. Titik cair dan titik didih terendah
dimiliki oleh unsur golongan VIIIA.
Dalam
satu golongan, ternyata ada dua jenis kecenderungan: unsur-unsur golongan IA –
IVA, titik cair dan titik didih makin rendah dari atas ke bawah; unsur-unsur
golongan VA – VIIIA, titik cair dan titik didihnya makin tinggi.
C. panjang ikatan dan sudut ikatan
Benzen
Sudut 120derajat
C6H12
Sudut 109,471 derajat
C6 pada C yang berikatan biasa bentuknya berbeda dengan bentuk C yang saling berikatan pada benzen.
Panjang ikatan rangkap tiga (C dengan C) : 1,2
Panjang ikatan rangkap dua (C dengan C): 1,34
Panjang ikatan tunggal (C dengan C): 1,52
Panjang iktan antara C dengan H : 1,08
Dari data panjang ikatan diatas, dapat disimpulkan panjang ikatan rangkap tiga lebih pendek bila dibandingkan dengan ikatan rangkap dua dan ikatan tunggal, ikatan rangkap dua lebih pendek dari ikatan tunggal. Dan ikatan C dengan H lebih pendek dari ikatan tunggal antara C dengan C.
Panjang dan kekuatan suatu ikatan tergantung dari hibridisasi dari atom yang saling berikatan. Semakin besar karakter s dalam orbital yang digunakan atom-atom untuk membentuk ikatan, semakin pendek dan kuat ikatan tersebut.
Hibridisasi orbital
Hibrid sp3
Hibridisasi menjelaskan atom-atom yang berikatan dari sudut pandang sebuah atom. Untuk sebuah karbon yang berkoordinasi secara tetrahedal (seperti metana, CH4), maka karbon haruslah memiliki orbital-orbital yang memiliki simetri yang tepat dengan 4 atom hidrogen. Konfigurasi keadaan dasar karbon adalah 1s2 2s2 2px1 2py1 atau lebih mudah dilihat:
(Perhatikan bahwa orbital 1s memiliki energi lebih rendah dari orbital 2s, dan orbital 2s berenergi sedikit lebih rendah dari orbital-orbital 2p)
Teori ikatan valensi memprediksikan, berdasarkan pada keberadaan dua orbital p yang terisi setengah, bahwa C akan membentuk dua ikatan kovalen, yaitu CH2. Namun, metilena adalah molekul yang sangat reaktif (lihat pula: karbena), sehingga teori ikatan valensi saja tidak cukup untuk menjelaskan keberadaan CH4.
Lebih lanjut lagi, orbital-orbital keadaan dasar tidak bisa digunakan untuk berikatan dalam CH4. Walaupun eksitasi elektron 2s ke orbital 2p secara teori mengijinkan empat ikatan dan sesuai dengan teori ikatan valensi (adalah benar untuk O2), hal ini berarti akan ada beberapa ikatan CH4 yang memiliki energi ikat yang berbeda oleh karena perbedaan aras tumpang tindih orbital. Gagasan ini telah dibuktikan salah secara eksperimen, setiap hidrogen pada CH4 dapat dilepaskan dari karbon dengan energi yang sama.
Untuk menjelaskan keberadaan molekul CH4 ini, maka teori hibridisasi digunakan. Langkah awal hibridisasi adalah eksitasi dari satu (atau lebih) elektron:
Proton yang membentuk inti atom hidrogen akan menarik salah satu elektron valensi karbon. Hal ini menyebabkan eksitasi, memindahkan elektron 2s ke orbital 2p. Hal ini meningkatkan pengaruh inti atom terhadap elektron-elektron valensi dengan meningkatkan potensial inti efektif.
Kombinasi gaya-gaya ini membentuk fungsi-fungsi matematika yang baru yang dikenal sebagai orbital hibrid. Dalam kasus atom karbon yang berikatan dengan empat hidrogen, orbital 2s (orbital inti hampir tidak pernah terlibat dalam ikatan) "bergabung" dengan tiga orbital 2p membentuk hibrid sp3 (dibaca s-p-tiga) menjadi
Pada CH4, empat orbital hibrid sp3 bertumpang tindih dengan orbital 1s hidrogen, menghasilkan empat ikatan sigma. Empat ikatan ini memiliki panjang dan kuat ikat yang sama, sehingga sesuai dengan pengamatan.
sama dengan
Sebuah pandangan alternatifnya adalah dengan memandang karbon sebagai anion C4−. Dalam kasus ini, semua orbital karbon terisi:
Jika kita menrekombinasi orbital-orbital ini dengan orbital-s 4 hidrogen (4 proton, H+) dan mengijinkan pemisahan maksimum antara 4 hidrogen (yakni tetrahedal), maka kita bisa melihat bahwa pada setiap orientasi orbital-orbital p, sebuah hidrogen tunggal akan bertumpang tindih sebesar 25% dengan orbital-s C dan 75% dengan tiga orbital-p C. HaL ini sama dengan persentase relatif antara s dan p dari orbital hibrid sp3 (25% s dan 75% p).
Menurut teori hibridisasi orbital, elektron-elektron valensi metana seharusnya memiliki tingkat energi yang sama, namun spektrum fotoelekronnya [3] menunjukkan bahwa terdapat dua pita, satu pada 12,7 eV (satu pasangan elektron) dan saty pada 23 eV (tiga pasangan elektron). Ketidakkonsistenan ini dapat dijelaskan apabila kita menganggap adanya penggabungan orbital tambahan yang terjadi ketika orbital-orbital sp3 bergabung dengan 4 orbital hidrogen.
Hibrid sp2
Senyawa karbon ataupun molekul lainnya dapat dijelaskan seperti yang dijelaskan pada metana. Misalnya etilena (C2H4) yang memiliki ikatan rangkap dua di antara karbon-karbonnya. Struktur Kekule metilena akan tampak seperti:
Ethene Lewis Structure. Each C bonded to two hydrogens and one double bond between them.
Karbon akan melakukan hibridisasi sp2 karena orbtial-orbital hibrid hanya akan membentuk ikatan sigma dan satu ikatan pi seperti yang disyaratkan untuk ikatan rangkap dua di antara karbon-karbon. Ikatan hidrogen-karbon memiliki panjang dan kuat ikat yang sama. Hal ini sesuai dengan data percobaan.
Dalam hibridisasi sp2, orbital 2s hanya bergabung dengan dua orbital 2p:
membentuk 3 orbital sp2 dengan satu orbital p tersisa. Dalam etilena, dua atom karbon membentuk sebuah ikatan sigma dengan bertumpang tindih dengan dua orbital sp2 karbon lainnya dan setiap karbon membentuk dua ikatan kovalen dengan hidrogen dengan tumpang tindih s-sp2 yang bersudut 120°. Ikatan pi antara atom karbon tegak lurus dengan bidang molekul dan dibentuk oleh tumpang tindih 2p-2p (namun, ikatan pi boleh terjadi maupun tidak).
Jumlah huruf p tidaklah seperlunya terbatas pada bilangan bulat, yakni hibridisasi seperti sp2.5 juga dapat terjadi. Dalam kasus ini, geometri orbital terdistorsi dari yang seharusnya. Sebagai contoh, seperti yang dinyatakan dalam kaidah Bent, sebuah ikatan cenderung untuk memiliki huruf-p yang lebih banyak ketika ditujukan ke substituen yang lebih elektronegatif.
Hibrid sp
Ikatan kimia dalam senyawa seperti alkuna dengan ikatan rangkap tiga dijelaskan dengan hibridisasi sp.
Dalam model ini, orbital 2s hanya bergabung dengan satu orbital-p, menghasilkan dua orbital sp dan menyisakan dua orbital p. Ikatan kimia dalam asetilena (etuna) terdiri dari tumpang tindih sp-sp antara dua atom karbon membentuk ikatan sigma, dan dua ikatan pi tambahan yang dibentuk oleh tumpang tindih p-p. Setiap karbon juga berikatan dengan hidrogen dengan tumpang tindih s-sp bersudut 180°.
Hibridisasi dan bentuk molekul
Hibridisasi, bersama dengan teori VSEPR, membantuk kita dalam menjelaskan bentuk molekul:
• AX1 (contoh: LiH): tidak ada hibridisasi; berbentuk linear
• AX2 (contoh: BeCl2): hibridisasi sp; berbentuk Linear atau diagonal; sudut ikat cos−1(−1) = 180°
o AX2E (contoh: GeF2): berbentuk V, < 120°
• AX3 (contoh: BCl3): hibridisasi sp2; berbentuk datar trigonal; sudut ikat cos−1(−1/2) = 120°
o AX3E (contoh: NH3): piramida trigonal, 107°
• AX4 (contoh: CCl4): hibridisasi sp3; berbentuk tetrahedral; sudut ikat cos−1(−1/3) ≈ 109.5°
• AX5 (contoh: PCl5): hibridisasi sp3d; berbentuk Bipiramida trigonal
• AX6 (contoh: SF6): hibridisasi sp3d2; berbentuk oktahedral (atau bipiramida persegi)
Hal ini berlaku apabila tidak terdapat pasangan elektron menyendiri (lone pair electron) pada atom pusat. Jika terdapat pasangan elektron menyendiri, maka elektron tersebut harus dihitung pada bagian Xi, namun sudut ikat akan menjadi lebih kecil karena gaya tolak menolak. Sebagai contoh, air (H2O) memiliki atom oksigen yang berikatan dengan dua H dan dua pasangan elektron menyendiri, hal ini berarti terdapat 4 'elemen' pada O. Sehingga termasuk dalam kategori AX4 dan terdapat hibridisasi sp3.
D. Energi Disosiasi
Energi ikatan
Reaksi kimia pada dasarnya
terdiri dari dua proses , yang pertama adalah pemutusan ikatan antar – atom
dari senyawa yang bereaksi, dan selanjutnya proses penggabungan ikatan
kembali dari atom – atom yang terlibat reaksi sehingga membentuk susunan
baru. Proses pemutusan ikatan merupakan proses yang memerlukan kalor (endoterm)
, sedangkan proses penggabungan ikatan adalah proses yang melepaskan kalor
(eksoterm).
Contoh
Pada reaksi : H2(g) + Cl2(g) → 2HCl(g)
Tahap pertama : H2(g) → 2H(g) …….. diperlukan energi
Cl2(g) → 2Cl(g) ……
diperlukan energi
Tahap kedua : 2H(g) +
2Cl(g) → 2HCl(g) …… dibebaskann energi
Secara skematis dapat
digambarkan sebagai berikut.
Kalor yang diperlukan
untuk memutuskan ikatan oleh satu mol molekul gas menjadi atom – atom atau
gugus dalam keadaan gas disebut dengan energi ikatan.
1. Energi disosiasi ikatan (D)
Energi disosiasi
ikatan adalah energi yang diperlukan untuk memutuskan salah satu ikatan 1 mol
suatu molekul gas menjadi gugus – gugus molekul gas.
Contoh
CH4(g) → CH3(g) + H(g)
∆H = +425 kJ/mol
CH3(g) → CH2(g) + H(g)
∆H = +480 kJ/mol
Reaksi tersebut
menunjukan bahwa untuk memutuskan sebuah ikatan C – H dari molekul CH4 menjadi gugus CH3 dan atom gas H
diperlukan energi sebesar 425 kJ/mol, tetapi pada pemutusan C – H pada gugus CH3 menjadi gugus CH2 dan sebuah atom
gas H diperlukan energi yang lebih besar, yaitu 480 kJ/mol. Jadi meskipun jenis
ikatannya sama tetapi dari gugus yang berbeda diperlukan energi yang berbeda
pula.
2. Energi ikatan rata – rata
Energi ikatan rata –
rata adalah energi rata – rata yang diperlukan untuk memutuskan sebuah ikatan
dari seluruh ikatan suatu molekul gas menjadi atom – atom gas.
Contoh
CH4(g) → CH3(g) + H(g) ∆H = +425 kJ/mol
CH3(g) → CH2(g) + H(g) ∆H = +480 kJ/mol
CH2(g) → CH (g) + H(g) ∆H = +425 kJ/mol
CH (g) → C(g) + H(g)
∆H = +335 kJ/mol
Jika keempat reaksi
tersebut dijumlahkan, akan diperlukan energi 1.665 kJ/mol, sehingga jika
diambil rata – ratanya maka untuk setiap ikatan didapatkan nilai +416,25
kJ/mol. Jadi, energi ikatan rata – rata dari ikatan C – H adalah 416,25 kJ/mol.
Energi ikatan rata
– rata merupakan besaran yang cukup berarti untuk meramalkan besarnya
energi dari suatu reaksi yang sukar ditentukan melalui pengukuran langsung
dengan kalorimeter, meskipun terdapat penyimpangan – penyimpangan.
Tabel energi ikatan
rata – rata beberapa ikatan (kJ mol-1)
Tabel energi ikatan
rata – rata beberapa ikatan (kJ mol-1)
Ikatan
|
Energi ikatan rata – rata (kJ/mol)
|
Ikatan
|
Energi ikatan rata – rata (kJ/mol)
|
C – H
|
+413
|
I – I
|
+151
|
C – H
|
+348
|
C – I
|
+240
|
C – O
|
+358
|
N – O
|
+201
|
C – F
|
+485
|
N – H
|
+391
|
C – Cl
|
+328
|
N – N
|
+163
|
C – Br
|
+276
|
C = C
|
+614
|
H – Br
|
+366
|
C = O
|
+799
|
H – H
|
+436
|
O = O
|
+495
|
H – O
|
+463
|
N ≡ N
|
+941
|
H – Cl
|
+431
|
C ≡ N
|
+891
|
F – F
|
+155
|
C ≡ C
|
+839
|
Cl – Cl
|
+242
|
||
Br – Br
|
+193
|
Energi
ikatan dapat digunakan sebagai petunjuk kekuatan ikatan dan kestabilan suatu
molekul. Molekul dengan energi ikatan besar berarti ikatan dalam molekul
tersebut kuat, yang berarti stabil. Molekul dengan wnwegi ikatan kecil berarti
mudah terurai.
Contoh
Energi
ikatan H – F = 567 kJ mol-1 dan H – I = 299
kJ mol-1. Fakta menunjukan
bahwa gas HI lebih terurai daripada gas HF.
Selain
dapat digunakan sebagai informasi kestabilan suatu molekul, nilai energi ikatan
rata – rata atau energi disosiasi ikatan dapat digunakan untuk memperkirakan
nilai perubahan entalpi suatu reaksi. Perubahan entalpi merupakan selisih dari
energi yang digunakan untuk memutuskan ikatan dengan energi yang terjadi
dari penggabungan ikatan.
∆H = ∑Energi ikatan zat pereaksi –
∑Energi ikatan zat hasil reaksi
1. Energi
Kimia dan Bahan Peledak
Ikatan
kovalen rangkap tiga N ≡ N pada molekul N2 memiliki energi ikatan yang sangat besar. Oleh karena
itu banyak reaksi kimia yang melibatkan pembentukan molekul N2 bersifat sangat eksotermik. Sebagai
contoh adalah reaksi peledakan. Bahan peledak pada umumnya terbuat dari senyawa
nitrogen. Pada saat peledakan dihasilkan energi kalor yang sangat besar (sangat
eksoterm), dan pelepasan gas produk reaksi dalam volume yang sangat besar. Daya
rusak dari peledakan diakibatkan oleh gelombang udara yang bergerak sangat
cepat (100 m/detik sampai 6 km/detik), akibat peningkatan volume gas produk
reaksi yang sangat besar dan atau akibat pemuaian udara oleh karena pelepasan
energi kalor yang besar dalam waktu singkat.
Bahan
peledak yang dibuat pertama kali adalah bubuk mesiu yang mengandung 75% KNO3, 12% S, dan 13% C. Setelah itu muncul amonium nitrat (NH4NO3) dengan kekuatan peledakan yang lebih tinggi. Hal ini
dikarenakan peledakan NH4NO3 menghasilkan O2, yang selanjutnya mengoksidasi
(membakar) zat-zat lain, sehingga menaikkan jumlah energi kalor yang
dilepaskan.
2 NH4NO3(s) → 2 N2(g)
+ O2(g) + 4 H2O(g)
Oleh
karena dapat menyuplai O2 yang cukup, NH4NO3 juga digunakan sebagai bahan campuran untuk bahan peledak
dengan daya rusak tinggi, seperti TNT (trinitrotoluena, C7H5O6N3) dan dinamit (nitrogliserin, C3H5O9N3). (Sumber: Chemistry, Gillespie, Humphreys, Bair,
Robinson, Allyn & Bacon Inc.)
2. Ikatan
pada Bahan Bakar dan Makanan
Pada
umumnya bahan bakar untuk mesin-mesin adalah hidrokarbon dan batu bara. Bahan
bakar untuk makhluk hidup adalah lemak dan karbohidrat. Dua macam bahan bakar
itu tersusun dari molekul-molekul organik yang besar dengan ikatan-ikatan C – C
dan C – H. Ketika bahan bakar bereaksi dengan O2 terbakar), maka ikatan-ikatan pada bahan bakar tersebut
akan putus dan atom-atom C, H, dan O membentuk ikatan C – O dan O – H pada
produk CO2 dan H2O.
Ketika
terbakar, bahan bakar membebaskan energi. Kita tahu bahwa total kekuatan
ikatan-ikatan pada produk lebih besar daripada total kekuatan ikatan-ikatan
pada bahan bakar dan O2. Bahan bakar dengan ikatan yang lebih lemah (kurang stabil,
energi tinggi), menghasilkan energi lebih besar daripada bahan bakar yang
ikatannya lebih kuat. Tabel 3. menunjukkan bahwa untuk beberapa bahan organik,
jika jumlah ikatan C – C dan C – H berkurang dan atau jumlah ikatan C – O dan O
– H bertambah dan bila sedikit energi dibebaskan dari pembakaran, maka ΔH
bertanda negatif (eksoterm). Dengan kata lain, jika ikatan-ikatan O pada bahan
bakar lebih sedikit, maka makin banyak energi yang dibebaskan saat dibakar.
Tabel
3. ΔHc (Entalpi Pembakaran) beberapa lemak dan karbohidrat
Zat
|
ΔHc (kJ/g)
|
Lemak
|
|
• Minyak sayur
|
37,0
|
• Margarin
|
30,1
|
• Mentega
|
30,0
|
Karbohidrat
|
|
• Sukrosa
|
16,2
|
• Beras merah
|
14,9
|
• Sirup maple
|
10,4
|
Lemak dan karbohidrat merupakan bahan-bahan
organik yang berfungsi sebagai sumber makanan yang menyediakan energi yang
tinggi. Lemak terdiri dari rantai atom-atom karbon ( C – C ) yang sangat besar
mengikat atom-atom hidrogen (C – H). Karbohidrat memiliki ikatan-ikatan C – O
dan O – H. Kedua jenis makanan ini dimetabolisme di dalam tubuh menjadi CO2 dan
H2O.
E. konsep asam dan basa dalam kimia organik
Klasifikasi asam-basa pada senyawa organik pada
umumnya mengikuti teori asam-basa Bronsted –Lowry. Penentuan kekuatan asam-basa
dapat dilihat dari harga pKa atau pKb nya. Yang perlu diingat bahwa asam kuat
akan menghasilkan basa konjugasi yang stabil, begitu juga sebaliknya akan lebih
kompleks. Kebanyakan asam adalah netral, maka basa konjugasi dari sebagian
besar asam bermuatan negatif, karena asam tersebut kehilangan proton.
Asam organik
Asam organik dicirikan oleh adanya atom hidrogen yang
terpolarisasi positif. Terdapat dua macam asam organik, yang pertama adanya
atom hidrogen yang terikat dengan atom oksigen, seperti pada metil alkohol dan
asam asetat. Kedua, adanya atom hidrogen yang terikat pada atom karbon di mana
atom karbon tersebut berikatan langsung dengan gugus karbonil (C=O), seperti
pada aseton.
Metil alkohol mengandung ikatan O-H dan karenanya
bersifat asam lemah, asam asetat juga memiliki ikatan O-H yang bersifat asam
lebih kuat. Asam asetat bersifat asam yang lebih kuat dari metil alkohol karena
basa konjugat yang terbentuk dapat distabilkan melalui resonansi, sedangkan
basa konjugat dari metil alkohol hanya distabilkan oleh keelektronegativitasan
dari atom oksigen.
Keasaman
aseton diperlihatkan dengan basa konjugat yang terbentuk distabilkan dengan
resonansi. Dan lagi, satu dari bentuk resonannya menyetabilkan muatan negatif
dengan memindahkan muatan tersebut pada atom oksigen.
Asam organik sebagai asam lemah.Maksud
dari asam organik merupakan asam lemah adalah karena ionisasi sangat tidak
lengkap. Pada suatu waktu sebagian besar dari asam berada di larutan sebagai
molekul yang tidak terionisasi.
Basa Organik
Basa organik dicirikan
dengan adanya atom dengan pasangan elektron bebas yang dapat mengikat
proton. Senyawa-senyawa yangmengandung atom nitrogen adalah salah satu
contoh basa organik,tetapi senyawa yang mengandung oksigen dapat pula
bertindaksebagai basa ketika direaksikan dengan asam yang cukup kuat. Perlu
dicatat bahwa senyawa yang mengandung atom oksigen dapat bertindak sebagai asam
maupun basa, tergantung lingkungannya. Misalnya aseton dan metil alkohol
dapat bertindak sebagai asam ketika menyumbangkan proton, tetapi sebagai basa ketika atom
oksigennya menerima proton.
Reaksi pembakaran /
Reaksi oksidasi
Reaksi Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan gas karbondioksida dan air, sedangkan pembakaran tidak sempurna akan menghasilkan gas karbon monoksida dan air. Terjadinya pembakaran sempurna atau tidak sempurna tergantung pada perbandingan antara konsentrasi (kadar) senyawa hidrokarbon dengan konsentrasi (kadar) oksigen.
1.
Oksidasi Pada Alkana
Reaksi
Oksidasi pada Senyawa Hidrokarbon, Suatu senyawa alkana yang bereaksi dengan
oksigen menghasilkan karbon dioksida dan air disebut dengan reaksi pembakaran.Semua alkana dapat bereaksi dengan oksigen pada
reaksi pembakaran, meskipun pada
alkana-alkana suku tinggi reaksi akan semakin sulit untuk dilakukan seiring
dengan jumlah atom karbon yang bertambah. Rumus umum pembakaran adalah:
CnH2n+2 +
(1.5n+0.5)O2 → (n+1)H2O + nCO2
CH4
+ 2O2
CO2 + 2H2O
Ketika jumlah oksigen tidak cukup banyak, maka dapat
juga membentuk karbon
monoksida, seperti pada reaksi berikut
ini:
CH4 + 1.5O2 → CO + 2H2O
2.
Oksidasi Pada Alkena
Pembakaran sempurna
alkena menghasilkan CO2 dan H2O.
C2H4 + 3O2
→ 2 CO2 + 2 H2O
Pembakaran tidak
sempurna alkena menghasilkan CO dan H2O.
C2H4 + 2O2
→ 2CO + 2 H2O
3.
Oksidasi Pada Alkuna
Pembakaran alkuna
Pembakaran alkuna (reaksi alkuna dengan oksigen) akan menghasilkan CO2 dan H2O.
2CH=CH + 5O2
→ 4CO2 + 2H2O













apa perbedaan asam biasa dengan asam organik ?
BalasHapusAsam organik merapakan sejenis asam yang merupakan senyawa organik yang dapat melepasakan ion H+ dalam larutannya. senyawanya dari makhluk hidup.
Hapussedangkan asam l berkisar dari asam yang sangat kuat.
contoh organik = asam asetat, fenol
mineral = asam sulfat , asam nitrat
berikan alasan mengapa jika energi ionisasi kecil berarti mudah melepaskan elektron?
BalasHapusdan jika energi ionisasi besar berarti sukar melepaskan elektron?
Untuk mengukur gaya tarik antar elektron elektron dan suatu sisi positif dapat ditentukan dengan mengukur energi ionisasinya. Energi ionisasi banyaknya energi yang diperlukan untuk menetralkan elektron dan membentuk ion. Energi ionisasi suatu elektron berbeda antara satu dengan yang lainnya. Apabila elektron tersebut jauh dari inti positif maka energi yang digunakan untuk melepaskan elektron tersebut lebih kecil bila dibandingkan dengan elektron yang jaraknya relatif lebih dekat dengan inti positif tersebut.
HapusCoba jelaskan cara menganalisa senyawa organik menggunakan metode analisis kualitatif dan metode analisis kunatitatif??
BalasHapusAnalisis kualitatif merupakan suatu proses dalam mendeteksi keberadaan suatu unsur kimia dalam cuplikan yang tidak di ketahui. Analisis kualitatif merupakan suatu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan.Dalam metode analisis kualitatif,kita menggunakan beberapa pereaksi,di antaranya pereaksi golongan dan pereaksi spesifik.
HapusTerdapat tiga pendekatan analisis kualitatif yang biasa dilakukan yaitu : perbandingan antara data retensi solut yang tidak diketahui dengan data retensi baku yang sesuai pada kondisi yang sama. Dengan cara spiking, yaitu dilakukan dengan menambah sampel yang mengandung senyawa tertentu yang akan diselidiki pada senyawa baku pada kondisi yang sama. Dan dengan cara menggabungkan alat kromatografi dengan spectrometer massa.
Mengidentifikasi reaksi-reaksi khusus senyawa yang mengandung C, H, O dapat di lakukan dengan metode analisis secara kualitatif. Analisis kualitatif adalah analisis untuk melakukan identifikasi elemen,spesies, dan atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu sampel.
Analisis kuantitatif merupakan suatu tekhnik atau metode untuk menentukan Kuantitas atau kadar suatu unsur/senyawa dalam suatu cuplikan. Analisis Kuantitatif dilakukan apabila kita telah mengetahui senyawa apa saja yang terkandung dalam suatu contoh. Sehingga dilakukan Analisis Kuantitatif ini untuk menentukan kadar dari suatu unsure yang terkandung.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusBagaimana sifat keelektronegatifan unsur-unsur satu periode dibandingkan dengan kenaikan nomor atomnya?
BalasHapusDalam satu periode, semakin meningkat nomor atom semakin meningkat pula keelektronegatifanya
Hapussementara dalam satu golongan, semakin meningkat nomor atom semakin menurun keelektronegatifannya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusTerima kasih informasi nya,sangat membantu mau bertanya bagaimana afenitas elektron dalam satu atom
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusDalam tabel periodik, kita dapat melihat massa suatu atom dan jumlah elektronnya. Ketika kita menentukan titik didih, titik beku, atau penguapan suatu atom, maka kita harus juga mengetahui sifat periodik unsur berdasarkan jari-jari, energi ionisasi, dan afinitas elektron.
HapusMengapa tiga hal tersebut bisa membantu mengetahui titik didih, titik beku, maupun penguapan? Karena kita mengetahui seberapa besar kecenderungan atau energi suatu atom untuk melepaskan atau menerima elektron, sehingga kita tahu apakah suatu benda mudah menguap atau membeku atau mendidih.
Afinitas Elektron salahsatunya dipengaruhi oleh muatan inti dan jari-jari atom. Lalu, apakah afinitas elektron dapat naik atau turun? Tolong jelaskan
BalasHapusDalam segolongan, jari-jari atom akan semakin besar dari atas ke bawah. Hal ini terjadi karena dari atas ke bawah jumlah kulit bertambah sehingga jari-jari atom juga bertambah.
HapusDalam seperiode, (dari kiri ke kanan) berjumlah kulit sama tetapi jumlah proton bertambah sehingga jari-jari atom juga berubah. Karena jumlah proton bertambah maka muatan inti juga bertambah yang mengakibatkan gaya tarik menarik antara inti dengan elektron pada kulit terluar semakin kuat. Kekuatan gaya tarik yang semakin meningkat menyebabkan jari-jari atom semakin kecil. Sehingga untuk unsur dalam satu periode, jari-jari atom semakin kecil dari kiri ke kanan.
kenapa unsur-unsur yang memiliki jumlah kulit yang sama tetapi mengapa mereka tidak memiliki jari-jari atom yang sama pula?
BalasHapus